Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 menetapkan berlakunya hukum pidana Hindia-Belanda yang berlaku pada tanggal 8 Maret 1942 sebagai dasar hukum pidana Republik Indonesia, dengan mengganti istilah kolonial (Nederlandsch-Indie menjadi Indonesia, Gouverneur-General menjadi Presiden), mencabut peraturan pidana Jepang, serta menambahkan ketentuan baru mengenai peredaran uang palsu dan keonaran.
Undang-undang (UU) Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan tentang Hukum Pidana
Status: Tidak Berlaku
Ringkasan Peraturan
Meridian AI bisa salah. Cek konten penting.
Konteks dari Meridian
Analisis Hukum: UU No. 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana
Konteks Historis:
-
Masa Transisi Pasca-Kemerdekaan
UU No. 1/1946 disahkan pada tahun kedua kemerdekaan Indonesia (1946), di tengah situasi revolusi fisik melawan Belanda. Pemerintah Indonesia saat itu berupaya membangun legitimasi sebagai negara berdaulat dengan menciptakan dasar hukum sendiri, menggantikan hukum kolonial Belanda. -
Adaptasi Hukum Kolonial ke Nasional
UU ini merupakan upaya pertama Indonesia untuk mengkodifikasi hukum pidana nasional. Namun, secara substansial, banyak pasalnya masih merujuk pada Wetboek van Strafrecht (WvS) atau Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) warisan Hindia Belanda. Hal ini dilakukan karena pemerintah belum memiliki kapasitas untuk menyusun KUHP baru secara utuh. -
Urgensi Politik dan Keamanan
Pada 1946, situasi politik tidak stabil akibat agresi militer Belanda. UU ini mungkin digunakan untuk mengatur tindak pidana yang mengancam keamanan negara, seperti makar atau kolaborasi dengan penjajah, guna memperkuat pertahanan revolusi.
Informasi Tambahan yang Kritis:
-
Status “Tidak Berlaku”
UU No. 1/1946 dicabut dan digantikan oleh UU No. 73 Tahun 1958 tentang “Menyatakan Berlakunya UU No. 1 Tahun 1946 untuk Seluruh Wilayah RI dan Mengubah KUHP”. Pencabutan ini menegaskan bahwa hukum pidana kolonial (WvS) tetap berlaku dengan penyesuaian, sementara UU No. 1/1946 hanya bersifat transisional. -
Hubungan dengan KUHP Kolonial
UU No. 1/1946 tidak sepenuhnya menghapus WvS Belanda. Justru, melalui Pasal 5 ayat (1), pemerintah mengakui keberlakuan hukum pidana kolonial selama tidak bertentangan dengan kemerdekaan Indonesia. Ini menunjukkan pragmatisme hukum di tengah keterbatasan sumber daya. -
Peran dalam Pembentukan KUHP Nasional
UU ini menjadi fondasi simbolis bagi proses panjang penyusunan KUHP Indonesia yang baru. Butuh 76 tahun sejak 1946 hingga disahkannya KUHP Nasional melalui UU No. 1 Tahun 2023, yang secara resmi menggantikan WvS. -
Pengaruh Konflik dengan Belanda
Beberapa pasal dalam UU No. 1/1946 mungkin dirancang untuk menindak pihak pro-Belanda atau pengkhianat revolusi. Hal ini mencerminkan prioritas pemerintah saat itu: konsolidasi kekuasaan dan penegakan kedaulatan.
Catatan Penting untuk Klien:
- Meski statusnya “tidak berlaku”, UU No. 1/1946 memiliki nilai historis sebagai upaya awal Indonesia membangun sistem hukum pidana mandiri.
- Substansi hukum pidana Indonesia hingga 2023 masih berbasis WvS Belanda, dengan perubahan progresif melalui UU khusus (seperti UU Tindak Pidana Korupsi atau UU ITE).
- Jika klien menghadapi kasus pidana yang terjadi sebelum 2023, rujukan hukum tetap merujuk ke WvS (KUHP kolonial) yang diakui melalui UU No. 73/1958.
Rekomendasi:
Selalu konfirmasi status hukum yang berlaku terkait temporalitas kasus. Untuk kasus pidana saat ini, pastikan referensi ke KUHP Nasional (UU No. 1/2023) yang mulai berlaku pada 2 Januari 2026, atau peraturan khusus yang lebih baru.
Sebagai ahli hukum, penting untuk memahami bahwa dinamika hukum pidana Indonesia tidak terlepas dari warisan kolonial dan upaya reformasi yang berlangsung gradual. UU No. 1/1946 adalah cerminan semangat revolusi sekaligus keterbatasan sumber daya di masa awal kemerdekaan.
Meridian AI bisa salah. Cek konten penting.
Metadata
Status Peraturan
Diubah Dengan
- UU No. 27 Tahun 1999 tentang Perubahan Kitab-Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang Berkaitan dengan Kejahatan Terhadap Keamanan Negara
- UU No. 4 Tahun 1976 tentang Perubahan dan Penambahan Beberapa Pasal Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Bertalian Dengan Perluasan Berlakunya Ketentuan Perundang-Undangan Pidana, Kejahatan Penerbangan, dan Kejahatan Terhadap Sarana/Prasarana Penerbangan
- UU No. 73 Tahun 1958 tentang Menyatakan Berlakunya Undang-Undang No. 1 Tahun 1946 Republik Indonesia
Dicabut Dengan
- UU No. 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
- UU No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang
Uji Materi
Pasal 319 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana sepanjang frasa "kecuali berdasarkan Pasal 316" bertentangan dengan UUD NRI Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
Pasal 154 dan Pasal 155 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana bertentangan dengan UUD NRI Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
Pasal 134, Pasal 136 bis, dan Pasal 137 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana bertentangan dengan UUD NRI Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
Network Peraturan
Dokumen
Akurat, Mendetil, dan Gratis!
Tidak terdeteksi AI detector
seperti ChatGPT.